Kontribusi Media Sosial, Teman, Guru terhadap Sikap Multikulturalisme dan Perilaku Remaja Muslim Minoritas Denpasar Bali

waktu baca 2 menit
Jumat, 17 Mar 2023 12:32 0 269 Fatiha Media

Judul: Kontribusi Media Sosial, Teman, Guru terhadap Sikap Multikulturalisme dan Perilaku Remaja Muslim Minoritas Denpasar Bali

Nama Penulis:
1. Prof. Dr. Mustaqim, M.Pd.
2. Mohammad Rofiq, M.Pd.
3. Abdullah Harish

Ukuran Buku: 14,8 x 21 cm

Tebal Buku: 124 Halaman

ISBN: 978-623-8217-09-0

Harga: 55.000

Penerbit Fatiha Media

Sinopsis:
Media sosial (medsos) telah menjadi fenomena yang semakin mengglobal dan mengakar. Keberadaannya nyaris tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bentuk aplikasi dalam komunikasi secara virtual, media sosial merupakan hasil dari kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi. Media sosial merupakan sebuah media online, di mana para penggunanya melalui aplikasi berbasis internet dapat berbagi, berpatisipasi, dan menciptakan konten berupa blog, wiki, forum, jejaring sosial, dan ruang dunia virtual yang disokong oleh teknologi multimedia yang kian canggih. Pada saat ini, jejaring sosial, blog, dan wiki merupakan media sosial yang paling banyak digunakan dan tumbuh pesat di antara yang lainnya. multikulturalisme adalah suatu ideologi jalan keluar dari persoalan mundurnya kekuatan integrasi dan kesadaran nasionalisme suatu bangsa sebagai akibat dari perubahanperubahan di tingkat global. Indonesia, khususnya, mengalami perubahan tersebut belakangan ini. Setidak-tidaknya kekhawatiran terjadinya kemunduran dalam kesadaran nasionalisme telah terbukti akhir-akhir ini. Contoh yang paling nyata adalah semakin meningkatnya keinginan beberapa daerah tertentu untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, meskipun sebegitu jauh pemerintah masih mampu meredam kehendak tersebut sehingga perceraian daerah-daerah tersebut belum terwujud pada saat ini. Selain itu, konflik-konflik yang terjadi akibat ketidaksetaraan sosial dan ekonomi juga meningkat pada awal abad keduapuluh satu ini. Sebagian orang berpendapat bahwa konflik-konflik itu terjadi karena kontrol negara yang selama otoriter telah melonggar, tetapi menjadikan kontrol itu kembali ketat nampaknya bukan jalan keluar yang terbaik karena Indonesia (pemerintah) akan berhadapan dengan arus kekuatan global yang lebih menyukai demokrasi, sehingga secara politik negara ini akan tersingkir dari pergaulan dunia. Akan tetapi, membuka lebih lebar lagi “keran-keran” keterbukaan juga mengandung risiko jangka panjang, yakni kemungkinan tercerai-berainya negara-bangsa ini menjadi sejumlah negara-negara yang lebih kecil. Hal ini yang mendorong sebagian ahli untuk memikirkan alternatif solusi terbaik agar tidak terjebak kedalam perpecahan, yakni jalan multikulturalisme.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *