Judul: Wisata Religi Tegalsari: Menjaga Warisan Islam dan Menggerakkan Ekonomi Lokal
Penulis: Dwi Setya Nugrahini, M.Pd., Maulida Nurhidayati, M.Si.
Ukuran Buku: 14 x 20 cm
Tebal Buku: 155 halaman
ISBN: (on proses)
Harga: (opsional)
Order buku via WA: 085800035514
Sinopsis:
Tegalsari bukan sekadar tempat untuk berziarah. Di kawasan ini tersimpan jejak panjang perkembangan Islam di Ponorogo melalui keberadaan Masjid Jami’ Tegalsari, makam Kyai Ageng Muhammad Besari, tradisi keagamaan, serta warisan pendidikan Islam yang masih dikenang hingga sekarang. Kehadiran para peziarah dari berbagai daerah menjadikan Tegalsari sebagai ruang pertemuan antara nilai spiritual, sejarah, budaya, kehidupan sosial, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Buku “Wisata Religi Tegalsari: Menjaga Warisan Islam dan Menggerakkan Ekonomi Lokal” mengajak pembaca melihat Tegalsari secara lebih utuh. Pembahasan tidak berhenti pada sejarah dan daya tarik wisata religi, tetapi juga menelusuri bagaimana kawasan tersebut dikelola melalui perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan. Keterlibatan yayasan, BUMDes, POKDARWIS, pemerintah, pedagang, dan masyarakat menunjukkan bahwa keberlanjutan wisata religi membutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Dibalik ramainya kunjungan peziarah, tumbuh pula berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Warung makanan dan minuman, pedagang perlengkapan ibadah, suvenir, usaha kecil, jasa parkir, hingga berbagai kegiatan UMKM menjadi bagian dari kehidupan kawasan. Wisata religi dengan demikian tidak hanya menghadirkan manfaat spiritual, tetapi juga membuka peluang pendapatan, kesempatan kerja, dan pengembangan ekonomi lokal. Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan. Penataan pedagang dan parkir, peningkatan fasilitas, pengelolaan sampah, profesionalitas pengelola, regenerasi sumber daya manusia, hingga perlindungan terhadap bangunan dan tradisi bersejarah menjadi pekerjaan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Buku ini menegaskan bahwa masa depan Wisata Religi Tegalsari bukan semata-mata tentang bagaimana mendatangkan lebih banyak pengunjung, melainkan bagaimana menjaga kesakralan dan warisan Islam sekaligus memastikan bahwa keberadaannya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Dengan tata kelola yang kolaboratif, adil, dan berkelanjutan, Tegalsari berpeluang terus berkembang tanpa kehilangan identitas sejarah dan spiritual yang menjadi kekhasannya.
Tidak ada komentar