Judul: Sejarah Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto (Cikal Bakal Desa Karangrowo)
Penulis: Maulana Achmad Hasan, S. Pd., Aldi Santoso, S. Pd., Rahma Yuwanita, Dewi Aprilia, & Yunia Siti Hawa
Ukuran Buku: 14 x 20 cm
Tebal Buku: 81 halaman
ISBN: (on proses)
Harga: (opsional)
Order via WA: 085800035514
Sinopsis:
Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto adalah Priyagung dari Kerajaan Mataram, dan beliau hidup di era masa penjajahan Belanda. Menurut cerita Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto mencoba melarikan diri dari kejaran penjajah Belanda ke Bintoro Kota Demak. Pada saat buyut Sipah/Raden Darmo Winoto sampai ke Bintoro Kota Demak dan menemui Sultan Trenggono, Sultan Trenggono mempunyai saran kepada Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto untuk melakukan perjalanan pergi ke Prawoto Kota Pati untuk menemui anaknya yaitu Raden Bagus Mukmin.
Selanjutnya Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto menemui Raden Bagus Mukmin dan menyampaikan pesan dari ayahnya yakni Sultan Trenggono bahwa Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto disuruh untuk menemui dirinya, yakni Raden Bagus Mukmin, untuk meminta saran agar terhindar dari kejaran tentara Belanda sekaligus menceritakan bahwa sewaktu ia beristirahat di Padepokan Prawoto, Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto dimata-matai oleh tentara penjajah Belanda.
Raden Bagus Mukmin menyampaikan saran kepada Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto untuk pergi dan meninggalkan daerah Prawoto karena sudah dimata-matai tentara penjajah Belanda. Atas saran dari Raden Bagus Mukmin Prawoto, Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto segera meninggalkan daerah Prawoto, kemudian Buyut Sipah berpamitan kepada Raden Bagus Mukmin untuk meninggalkan Prawoto guna melarikan diri dari kejaran mata-mata tentara penjajah Belanda.
Perjalanan Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto menelusuri lereng gunung Prawoto melewati Masjid Kauman, Kampung Kutuk, Kampung Nggaliran, Kampung Kaliyoso, Kampung Ngeseng, dan Kampung Betetan. Setelah beristirahat di daerah kampung Betetan, beliau melanjutkan perjalanan hingga kemudian melihat kawasan tersebut terdapat aliran sungai. Kemudian Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto memutuskan untuk membuat gethek yang terbuat dari badan pohon pisang/debok menelusuri area utara sungai kurang lebih 500 Meter.
Pada akhirnya setelah beliau Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto menelusuri sungai, tiba-tiba berhenti karena gethek yang ditumpangi Buyut Sipah kandas dan berhenti dikarenakan air sungai secara ajaib tiba-tiba menjadi surut dan kemudian beliau tidak dapat melanjutkan perjalanannya serta memutuskan untuk membuat rumah dari bambu-bambu yang beratapkan daun Resulo/daun pohon Rembulung dan juga rumput Lingi untuk beristirahat. Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto mendirikan rumah di sebelah selatan seberang sungai ketika ia berhenti menumpangi gethek yang ditumpanginya. Lokasi tersebut sekarang berada di seberang sungai kecil sebelah selatan Makam Buyut Sipah dan Makam umum kampung Krajan saat ini.
Setelah sekian lama Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto tinggal di kampung tersebut, Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto meminta izin kepada warga kampung sekitar untuk mengunjungi keluarganya yang di Mataram. Sebelum mengunjungi keluarganya yang ada di Mataram, Buyut Sipah/Raden Darmo Winoto mampir sowan ke Bintoro Demak menghadap Sultan Trenggono. Setelah Buyut Sipah sampai di kediaman keluarga di Yogyakarta dengan selamat, beliau berbincang-bincang dengan keluarganya dan memberitahu untuk memanggilnya dengan nama “Buyut Sipah/Kek Sipah.” Putri beliau memahaminya dengan memanggil Kek Sipah serta mengajak keluarganya untuk bersilaturrahim ke Bintoro dan tinggal di Kota Kudus tepatnya di Kampung Karangrowo.
Tidak ada komentar