Sistem Pendidikan Guru di Indonesia dan Malaysia

waktu baca 2 menit
Selasa, 7 Nov 2023 14:28 0 204 Fatiha Media

Judul: Sistem Pendidikan Guru di Indonesia dan Malaysia

Penulis: Prof. Dr. Mahfud Junaedi, M. Ag., Prof. Dr. Zainudin Hasan, Dr. Ahmad Ismail, M.Ag., Nasikhin, M. Pd., Vinda Ayu Prihatini, Syafiq Yunensa

Ukuran Buku: 14,8 x 21 cm

Tebal Buku:

Penerbit: FATIHA MEDIA

Sinopsis: Buku ini menunjukkan beberapa perbedaan system pendidikan di Indonesia dan Malaysia memiliki perbedaan. 1) Di Indonesia, gelar sarjana pendidikan guru agama Islam hanya dapat diperoleh dengan mengikuti pendidikan di universitas segera setelah siswa menyelesaikan SMA. Sebaliknya, di Malaysia, lulusan sekolah menengah diwajibkan mengikuti salah satu program matrikulasi, asasi, atau diploma selama dua tahun sebelum melanjutkan pendidikan sarjana muda di universitas atau Institut Pendidikan Guru (IPG). 2) Untuk menyelesaikan studi sarjana pendidikan Islam, mahasiswa Indonesia harus menyelesaikan 144 SKS dalam waktu paling cepat 3,5 tahun dan paling lama 7 tahun, sementara di Malaysia hanya memerlukan 128 SKS yang harus diselesaikan dalam waktu paling cepat 4 tahun dan paling lama 6 tahun. 3) Meskipun keduanya diawasi oleh dekan, kurikulum program studi pendidikan Islam di Indonesia sepenuhnya berada di bawah kendali ketua program studi, sementara di Malaysia, 40% dirancang oleh departemen School of Education (bidang pedagogi) dan 60% dikelola oleh Akademi Tamaddun (bidang kemampuan profesional dan sosial-kepribadian). 4) Kurikulum pendidikan guru agama Islam di Indonesia menitikberatkan 29% pada penguatan pedagogi, 56% pada kemampuan profesional, dan 15% pada ranah sosial-kepribadian. Sedangkan di Malaysia, kurikulum pendidikan guru agama Islam fokus 21% pada penguatan pedagogi, 49% pada kemampuan profesional, dan 30% pada ranah sosial-kepribadian. 5) Dalam upaya menyusun kurikulum berbasis digital, institusi pendidikan tinggi keguruan di Malaysia memberikan 20% dari total mata kuliah untuk persiapan guru terhadap kemampuan teknologi digital, sementara di Indonesia, struktur mata pelajarannya masih bersifat tradisional dan belum sesuai dengan kebutuhan di era digital.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *